Ketika Sakralitas Diganti Teror

Sumber Tulisan: Disini

Sakralitas kelihatan kian lenyap di kawasan Timur Tengah. Teror demi teror mengahancurkan manusia, masjid, bangunan, pasar, jalan raya, dan seterusnya. Sakralitas seolah tidak lagi tersisa berganti dengan teror yang menjadi order of the day –acara wajib hari demi hari. Inilah wilayah tempat di mana banyak para nabi dan rasul diutus, dan juga di mana banyak kitab suci diturunkan.

Lihatlah apa ang terjadi, misalnya, Jumat pekan lalu (20/3). Dua masjid, tempat menyembah Allah SWT yang sakral menjadi sasaran teror di Yaman. Pembawa bom pasti tahu, Jumat adalah sayyid al-ayyam. Bom bunuh diri bukan hanya meluluhlantakkan bangunan masjid, tetapi lebih fatal lagi menewaskan sedikitnya 142 jamaah. Bangunan masjid bisa dibangun kembali, tetapi nyawa yang melayang tidak pernah bisa direhab, direnovasi atau dibangun kembali.

Inilah salah satu bentuk kebiadaban sempurna –kebiadaban bukan hanya terhadap kemanusiaan, tetapi juga kepada ketuhanan. Apakah yang ada di dalam benak pembawa bom bunuh diri; apakah yang ada di kalbunya. Tak perlu akal canggih atau diskusi panjang; tindakan semacam ini hanya bisa dilakukan orang tidak beriman, meski ketika membawa dan memicu bom di dalam masjid sembari meneriakkan nama Tuhan.

Kekerasan dan teror terus merajalela dengan kecenderungan meningkat dari hari ke hari di Timur Tengah atau khususnya di berbagai wilayah dunia Arab. Puncak kekerasan dan teror biasanya pada akhir pekan, yang bermula dengan Kamis sore, Jumat, dan Sabtu yang merupakan hari libur di dunia Arab.

Meminjam ungkapan di Amerika atau Eropa, thanks God it’s Friday [TGIF], di dunia Arab orang-orang lazim berucap al-yaum, yaum al-Khamis, alhamdulillah –ujung pekan yang disusul dengan libur Jumat-Sabtu.

Tapi akhir pekan di banyak tempat di dunia Arab tampaknya tidak lagi merupakan hari kedamaian –pada Jumat sekalipun, yang merupakan waktu menjalankan ibadah Jumat. Sebaliknya, akhir pekan yang mencakup hari sakral –sakralitas diganti teror. Jumat justru digunakan sebagai waktu memobilisasi orang dan kelompok melakukan kekerasan dan teror, khususnya dengan bom bunuh diri.

Bom ditujukan bukan kepada siapa-siapa. Lazimnya tidak lain ditujukan kepada sesama Muslim baik yang berasal dari aliran dan mazhab berbeda atau yang sama, baik dari kalangan aparat negara maupun rakyat biasa.

Bom bunuh diri secara sengaja guna menghancurkan musuh –dan pembawa bom itu sendiri– sejak dasawarsa 1980-an menjadi cara paling populer di berbagai tempat di dunia. Dari tahun terus cara ini terus meningkat.

Di antara 1981-2006 terjadi sekitar 1.200 bom bunuh diri di seluruh dunia. Sekitar 90 persen serangan bom bunuh diri terjadi di Irak, Israel, dan wilayah-wilayah Palestina. Sampai 2008, di Irak, misalnya, pelaku bom bunuh diri mencapai 1.121 orang dengan jumlah korban tewas yang masif.

Meski angka pasti jumlah bom bunuh diri beserta korbannya yang tewas setiap tahun sulit dikompilasikan, yang pasti pengeboman bunuh diri kian meningkat sejak 2008 tersebut. Pada 2014 di seluruh dunia terjadi 592 serangan bunuh diri –meningkat 94 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2014 korban tewas karena serangan bunuh diri mencapai sekitar 4.400 orang, meningkat dibandingkan 2013 yang mencapai 3.200-an.

Peningkatan terutama terjadi di negara-negara Arab. Pada 2014 terjadi sekitar 370 serangan bunuh diri di dunia Arab dengan jumlah korban tewas sekitar 2.750 orang. Jumlah ini meningkat dibanding 2013 dengan 163 serangan bunuh diri dan jumlah korban tewas sekitar 1.950. Peningkatan terjadi di Irak (271 pada 2014 berbanding 98 pada 2013); Yaman (29 berbanding 10); Lebanon (13 berbanding 3); Libya (11 berbanding 1); Mesir (4 berbanding 6, menurun).

Eskalasi kekerasan bunuh diri juga terjadi di Suriah karena faktor ISIS. Sepanjang 2014 terjadi serangan bom bunuh diri dilakukan 382 pelaku dengan jumlah korban tewas sekitar 420 jiwa.

Peningkatan bom bunuh diri terjadi pula di Afghanistan (124 pada 2014 berbanding 65 pada 2013); Pakistan (2014 dan 2013 angkanya nyaris sama 36 berbanding 35); Nigeria (32 berbanding 3); Somalia (19 berbanding 14).

Melihat kecenderungan perkembangan yang masih tidak kondusif di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim tersebut, kekerasan dan teror bom bunuh diri bakal berlanjut secara signifikan pada 2015. Sangat sulit memprediksi kapan kekerasan dengan bom bunuh berkurang jika tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Yang pasti, sakralitas jiwa manusia, masjid, dan rumah ibadah lain atau pandam pekuburan kian digantikan kekerasan dan teror. Masjid di negara-negara tersebut tadi bukan lagi tempat berlindung yang aman. Tetapi kian menjadi target empuk khususnya pada Jumatan ketika jamaah berkumpul dalam jumlah besar.

Indonesia, alhamdulillah, tidak mengalami nasib tragis seperti itu. Semua kita berdoa, janganlah kejadian serupa –sakralitas digantikan kekerasan dan teror juga menyebar ke tanah air ini. Menjadi kewajiban setiap dan seluruh bagian umat untuk tidak tergoda melakukan kekerasan; dan sebaliknya tetap menghormati sakralitas dalam kehidupan keislaman dan keindonesiaan.

Karena itu, adanya orang-orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS perlu diwaspadai dan diberikan sanksi hukum yang tegas. Sebab, ketika mereka kembali ke tanah air kelak, bisa diduga mereka dengan segera bakal mengganti sakralitas dan kedamaian dengan kekerasan dan teror. []

REPUBLIKA, 26 Maret 2015
Azyumardi Azra ; Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Ketua Teman Serikat Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s