Transnasionalisasi Islam Indonesia (2)

Sumber Tulisan : Disini

Ormas-ormas Islam Indonesia sejak dasawarsa awal sejarahnya pada zaman Belanda telah menghadapi tantangan berbagai gerakan dan organisasi Islam dengan agenda transnasional. Gerakan dan organisasi transnasional ini secara tipikal lahir dan berpusat di tempat tertentu di wilayah dunia Muslim lain, khususnya di Anak Benua India dan Timur Tengah. Secara tipikal pula, gerakan dan organisasi transnasional memiliki agenda dan program membawa Muslimin lain—termasuk kaum Muslim Indonesia—ke dalam pelukan mereka.

Gerakan transnasional pertama yang datang ke Indonesia sejak pertengahan dasawarsa ketiga abad ke-20 adalah Ahmadiyah dengan pandangan doktrinal berbeda tentang posisi Mirza Ghulam Ahmad, sang pendiri, tentang apakah ia ‘nabi’ atau ‘mujadid’. Arus utama Muslimin Nusantara menolak klaim ‘kenabian’ Mirza Ghulam Ahmad karena Nabi Muhammad SAW adalah ‘khatm alanbiya’, nabi penutup.

Ahmadiyah juga mengusung doktrin kekhali fah an untuk menyatukan kaum Muslimin di bawah payung tunggal keagamaan. Namun, ‘khilafah’ Ahmadiyah lebih bersifat keagamaan daripada politik.

Gerakan transnasionalisme keagamaan lain yang juga menyebar di Indonesia sejak 1950-an adalah Jamaah Tabligh, yang juga berasal dari Anak Benua India. Berbeda dengan Ahmadiyah yang kontroversial, Jamaah Tabligh tidak memperkenalkan teologi dan doktrin berbeda dengan arus utama Muslim Indonesia.

Hal paling distingtif dari Jamaah Tabligh ada lah dakwah ‘agresif’, dari pintu ke pintu, apakah ke pada sesama Muslim maupun non-Muslim. Me lalui program ‘khuruj’ (keluar berdakwah), para anggota yang sekaligus dai Jamaah Tabligh mengembara dari satu tempat lain di berbagai penjuru dunia berdakwah. Karena Jamaah Tabligh nonpolitis, gerakan ini bebas berdakwah di Indonesia dan di tempat lain di mancanegara.

Pengalaman berbeda dialami Hizbut Tahrir, ge rakan transnasional lainnya yang didirikan Syekh Taqiuddin an-Nabhani di Yerusalem pada 1952, yang mulai masuk Indonesia sejak masa Presiden Soeharto. Lebih banyak bergerak diamdiam pada zaman Soeharto, HT (Indonesia/HTI) aktif secara terbuka sejak masa reformasi— mengusung ‘syariah sebagai solusi’ dan ‘khilafah’ sebagai satu-satunya sistem dan kelembagaan politik Islam.

HTI yang merupakan gerakan politik trans na sional juga aktif merespons isu dan masalah aktual dalam politik, sosial, ekonomi, dan budaya; kunci bagi HTI dalam memecahkan berbagai masalah tidak lain hanya ‘syariah’ dan ‘khilafah’. Apa tantangan pemikiran dan beberapa ge rakan transnasionalisme terhadap arus utama Islam Indonesia? Tantangan itu bisa terlihat pada beberapa level. Pertama, kehadiran dan aktivisme gerakan transnasionalisme dalam segi tertentu mengisyaratkan masih adanya ruang yang belum berhasil diisi ormas-ormas arus utama Muslim.

Sebaliknya, ada gejala terseretnya warga ormas arus utama Islam Indonesia ke dalam orientasi pemikiran dan gerakan transnasional, baik nonpolitis maupun politis. Tentu, sangat sulit mengukur seberapa besar gejala itu. Yang pasti, jika tidak diantisipasi para pimpinan ormas Islam Indonesia arus utama, bukan tidak mungkin kian banyak anggotanya yang terseret ke dalam pe mikiran dan gerakan transnasional Islam.

Gejala seperti itu bukan tanpa preseden di ling kungan ormas Islam Indonesia. Minhadjurrah man Djojosoegito, salah seorang sekretaris Mu hammadiyah pada akhir 1920-an, misalnya, ter ba wa ke dalam Ahmadiyah. Dia bahkan meng un dang dua tokoh Ahmadiyah Anak Benua India, Mirza Wali Ahmad Baiq dan Maulana Ahmad, berpidato pada Muktamar 13 Muhammadiyah dan menyebut Ahmadiyah sebagai ‘organisasi saudara Muhammadiyah’. Djojosoegito akhirnya dipecat pimpinan Muhammadiyah, dan ia kemudian mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada 4 April 1930.

Dari perspektif lain, pemikiran dan gerakan Islam transnasional menunjukkan ormas Islam arus utama agak terlambat mengantisipasi per ubahan dan dinamika yang terjadi di kalangan umat, khususnya dalam kaitan dengan Islam in ternasional. Ketika globalisasi dan euforia demo krasi menemukan momentum sejak paruh kedua da sawarsa 1990-an, paham dan gerakan trans na sional juga berekspansi secara bebas di Indo nesia.

Keterlambatan itu boleh jadi karena ormas Islam arus utama lebih banyak terfokus pada kegiatan rutin. Kalangan pimpinan ormas Islam Indonesia juga terbawa pada isu politik domestik sehingga tidak atau kurang ‘mawas’ terhadap penetrasi pemikiran dan gerakan transnasional ke dalam ormas.

Meski tidak ingin melebih-lebihkan tantangan pemikiran dan gerakan transnasional terhadap Islam wasatiyah Indonesia, jelas ormas-ormas Islam Indonesia perlu memberikan perhatian se rius pada gejala ini. Sebab, jika penetrasi pe mikiran dan gerakan transnasional kian menguat ke dalam ormas Islam arus utama, dapat me nimbulkan gesekan dan friksi secara internal.

Menghadapi tantangan internal dan eksternal, pada segi lain perkembangan dan dinamika ke agamaan dan politik internasional kian me nuntut kehadiran ormas Islam Indonesia. Kenyataan kaum Muslim Indonesia merupakan populasi ter besar warga beragama Islam di muka bumi membuat ormas Islam negeri ini tidak bisa lagi berpangku tangan atau hanya bergerak seadanya. Masyarakat dunia memerlukan transnasionalisasi dan inter nasionalisasi Islam wasatiyah Indonesia.

Oleh Azyumardi Azra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s