Anak SMA Jepang

Sumber Tulisan : Disini

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Memberi ceramah di depan anak SMA? Penulis Resonansi ini hampir selalu menemukan kesulitan dan kagok memberi ceramah pada anak-anak SMA Indonesia. Pertama, saya merasa bahasa saya susah ‘disederhanakan’ karena lazimnya memberi ceramah di depan audiens perguruan tinggi yang biasa dengan ‘bahasa tinggi’ dan formal . Kedua, sering anak-anak SMA bising; asyik bicara sesama mereka sendiri dan tidak mengikuti apa yang disampaikan penceramah.

Bagaimana kalau ceramah di depan anak SMA Jepang? Saya agak tercengang ketika memberikan ceramah di depan Fukuoka Chuo High School pada 19 September lalu sebagai bagian program Penganugerahan Fukuoka Prize. Ketika masuk ke auditorium tempat ceramah, saya menemukan sekitar 800an anak SMA yang duduk dengan senyap, tidak ada yang ngobrol atau mencolek temannya; semuanya kelihatan well-behaved, bertingkah laku ‘terlalu’ sopan. Mereka kemudian membungkukkan badan dalam-dalam ke arah saya sambil mengucapkan‘konnichiwa gozaimasu’, selamat siang, terimakasih.

Memberikan ceramah tentang ‘Indonesia, Islam, dan Politik Multi-kulturalisme’, penulis Resonansi ini banyak bercerita tentang keragaman sosio-kultural Indonesia, dan agama. Juga tentang Islam Indonesia yang toleran dan hidup berdampingan dengan umat-umat agama lain secara damai.

Seperti dituturkan Kepala Sekolah, Nyonya Tsujimura Yoshie (60 tahun), ceramah tentang Indonesia dan Islam sangat penting bagi para muridnya, karena pengetahuan mereka tentang tentang subyek ini sangat minimal. Mereka mengetahui hanya sedikit sekali tentang Indonesia dari matapelajaran Sejarah. Karena itu, anak-anak SMA Fukuoka Chuo High School yang didirikan pada 1898 ini terlihat agak heran ketika saya beritahu, waktu Jepang sama dengan Waktu Indonesia Timur;  dan bahwa perlu waktu terbang sekitar tujuh jam langsung dari ujung barat Indonesia ke ujung timur.

Anak SMA Jepang memiliki beban  belajar yang hampir sama beratnya dengan anak SMA Indonesia. Rata-rata mereka harus mengikuti sekitar delapan matapelajaran, yang kemudian ditambah lagi dengan berbagai kegiatan ‘ekskul’. Karena itu banyak anak SMA Jepang tetap masuk sekolah pada Sabtu. Anak SMA Jepang belajar sekitar 240 hari setahun. Bandingkan dengan anak SMA Indonesia yang setahun belajar sekitar 220 hari, dan Amerika Serikat 190 hari.

Hari belajar anak SMA Jepang yang lebih banyak itu, nampaknya tidak lain untuk memastikan mereka dapat lulus ujian masuk perguruan tinggi. Masyarakat dan anak SMA Jepang sangat yakin, pendidikan menengah merupakan satu-satu cara mencapai mobilitas sosial-ekonomi kelak. Tidak lulus SMA dan tidak diterima di perguruan tinggi berarti lenyapnya masa depan. Karena itu, tingkat bunuh diri di kalangan murid SMA Jepang cukup tinggi. Sejak 2002 sampai 2012, jumlah anak SMA Jepang yang bunuh diri setiap tahun sekitar 200 orang.

Menyaksikan anak SMA Jepang yang senyap, saya mempersingkat ceramah untuk memberi kesempatan kepada mereka bertanya, walaupun dalam rincian jadwal acara tidak ada sesi tanya jawab. Satu kali; dua kali diminta tidak ada yang mengacungkan tangan. Baru pada kesempatan ketiga ada yang bertanya tentang apa beda Islam Indonesia dengan ISIS. Sambil berseloroh, penanya nampaknya suka menonton berita, saya menjelaskan Islam Indonesia adalah ‘Islam Jalan Tengah’ yang menolak kekerasan dan brutalitas.

Pancingan saya berhasil. Ada empat lagi penanya lain. Salah satunya bertanya kenapa orang Islam sering kelihatan terlalu bersemangat dalam beragama. Sementara di Jepang sendiri agama tidak lagi penting.

Menjawab pertanyaan itu, saya menjelaskan antusiasme beragama adalah gejala global. Meski di Jepang—seperti juga di Eropa—agama kian kehilangan tempatnya, sebaliknya di Amerika Serikat sejak paroan kedua 1980an mengalami  kebangkitan agama, yang memunculkan kembali gejala ‘fundamentalisme Kristen’. Gejala ‘kebangkitan agama’ ini kemudian juga menemukan momentum di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Meski anak SMA Jepang tadi menyatakan, agama tidak lagi penting, saya menemukan gejala lain. Dalam kunjungan ke kuil Dazaifu Tenmangu Shrine di luar Kota Fukuoka saya menemukan banyak sekali anak SMA Jepang. Mereka ini ternyata sedang berziarah ke kuil yang didirikan pada 901 Masehi untuk mengenang Michizane Sugawara yang dipercayai sebagai ‘dewa ilmu pengetahuan’. Anak-anak SMA dari berbagai tempat di Jepang datang ke kuil itu untuk ngalap berkah agar sukses dan lulus dalam pelajaran mereka.

Hal yang sama juga saya temukan di Kuil Nijo (Nijo-Jo) Kyoto. Anak-anak SMA Jepang mendatangi kuil ini untuk mendapat kekuatan dalam menghadapi ujian yang segera mereka hadapi.

Sambil berseloroh, saya menyatakan kepada Profesor Yasushi Kusogi, gurubesar Universitas Kyoto yang juga merupakan Ketua Masyarakat Muslim Kyoto, apa yang dilakukan anak SMA Jepang itu semacam istighatsah yang lazim dilaksanakan anak sekolah di Jawa Timur, misalnya, menjelang Ujian Nasional.

Tetapi Profesor Kosugi segera menjelaskan, apa yang dilakukan anak SMA Jepang tadi lebih tepat disebut sebagai dinamisme, kepercayaan tentang adanya kekuatan gaib. Ini jelas bukan agama. Gejala ini seolah memberi peluang bagi agama untuk tampil. Tapi, seperti dikemukakan Profesor Kusogi berdasar pengalamannya, tidak mudah mengajak warga Jepang masuk ke pangkuan agama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s