Masjid Cordova

Sumber Tulisan : Disini

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Ingat Cordova, pastilah ingat Andalusia—Spanyol sekarang. Tapi Cordova yang satu ini bukan terletak di Spanyol, tapi di Slovakia, Eropa Tengah. Meski beda lokasi, hal yang pasti sama adalah keduanya terkait dengan Islam. Walaupun demikian, Cordova Spanyol pernah menjadi simbol kejayaan Islam di Eropa Barat, sedang Cordova, di Bratislava, Ibu Kota Slovia, masih bakal menempuh perjuangan panjang dan sulit untuk pengakuan eksistensial Islam dari negara.

Kulturne Centrum Cordova, pusat kebudayaan Islam Cordova, sekaligus merupakan satu-satunya ‘masjid’ di Bratislava. ‘Masjid’ harus diletakkan dalam tanda kutip karena bangunannya bukanlah masjid seperti yang biasa dikenal. ‘Masjid’ Cordova ini tidak lain adalah ‘apartemen’ berlantai dua; lantai bawah terdapat ruangan yang biasa dibuat menjadi enam shaf, dengan masing-masing shaf bisa diisi sekitar delapan jamaah. Kemudian ruang atas dengan sekitar empat shaf. Walhasil, dalam kalkulasi penulis Resonansi ini ketika melaksanakan ibadah Jumat di ‘masjid’ Cordova pada akhir Oktober lalu (31/10), ruangan ‘masjid’ ini nampaknya bisa menampung sekitar 60-an jamaah.

Atas dasar kenyataan ini, menurut berbagai laporan media Eropa, Slovakia merupakan satu-satunya negara di benua ini yang tidak memiliki masjid. Lukas Ondercanin misalnya, dalam artikelnya “Muslim Community Believes, Even Without Mosque’ (The Slovak Spectator, 28 Oktober 2013) menyatakan, Slovakia kini satu-satunya negara di Uni Eropa yang tidak memiliki satu masjid pun.

Muhammad Safwan Hasna (44 tahun), Ketua Yayasan Islam Slovakia (didirikan pada 1999) yang mengelola Kulturne Centrum Cordova menyatakan kepada delegasi Dialog AntarAgama Indonesia telah cukup lama mengajukan izin pembangunan sebuah masjid, karena lahannya sudah tersedia di Patronka, di pinggir pusat kota Bratislava, sejak beberapa tahun lalu.

Untuk mendapatkan izin pembangunan, harus ada persetujuan 20 ribu warga setempat di mana masjid akan dibangun. Mereka ini umumnya adalah penganut Katolik yang tidak selalu memiliki persepsi benar dan akurat terhadap Islam dan kaum Muslimin. Safwan menjelaskan, pengurus Cordova berusaha menjalin hubungan baik dengan pimpinan gereja Katolik, tetapi tidak selalu berhasil. Masjid Cordova misalnya mengundang pimpinan gereja dalam kesempatan iftar (berbuka puasa bersama, namun respon mereka tidak seperti yang diharapkan.

Dengan keadaan seperti ini, tidak mudah mendapat persetujuan mereka—apalagi untuk mendirikan masjid. Selain itu, penyebab utama tidak turunnya izin pembangunan masjid juga terkait dengan kenyataan, belum adanya pengakuan pemerintah Slovakia terhadap Islam sebagai agama terdaftar yang juga dianut sebagian warganya. Sejauh ini hanya Katolik bersama puluhan denominasi Kristianitas lain dan agama Yahudi yang telah lama terdaftar dan dengan demikian mendapat pengakuan negara.

Populasi Muslim di Slovakia memang sedikit. Dari sekitar 5,4 juta penduduk Slovakia, sekitar 62 persen adalah Katolik; 12 persen Protestan dan denominasi Kristen lain. Kaum Muslim menurut Yayasan Islam berjumlah sekitar 5.000an; sedangkan Pew Research Institute (2013) memperkirakan sekitar 10.600 orang.

Menurut Imam Hasna, sejak abad 9 Masehi Islam sudah sampai ke Slovakia, dibawa para pedagang. Kemudian sepanjang abad 16-17 Slovakia dikuasai Dinasti Turki Utsmani. Merupakan wilayah dengan penganut Katolik yang teguh, sepanjang masa ini, nampaknya tidak terjadi konversi penduduk lokal ke dalam Islam. Karena itu, kebanyakan warga Muslim adalah keturunan Albania dan Bosnia. Belakangan juga terdapat sejumlah Muslim asal Arab dan Asia Selatan.

Kalangan Muslim aktivis berusaha memperkenalkan Islam dalam bahasa Slavik, misalnya melalui majalah Islam yang pertama kali diterbitkan pada 1937. Tetapi sejak akhir Perang Dunia II, rejim komunis tidak membenarkan keagamaan apapun. Meski demikian, pada 1972, seorang akademisi, Ivan Hrebek menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Czech—yang juga dipahami warga Slovakia; belakangan Hrbek dilaporkan memeluk Islam.

Meski Islam belum merupakan agama terdaftar, Imam Hasna yang hijrah dari Syria untuk pendidikan tingginya menyatakan, kaum Muslimin Slovakia tidaklah tertindas. Sebaliknya, mereka menikmati kebebasan yang bahkan tidak mereka temukan di negara berpemerintahan Muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan.

Walaupun demikian, kaum Muslimin Slovakia bukan tidak jarang menjadi sasaran kecurigaan pemerintah dan kalangan masyarakat lokal. Berbagai peristiwa kekerasan dan teror yang melibatkan para pelaku Muslim, membuat upaya mereka memperkenalkan wajah Islam yang damai sangat sulit. Penangkapan seorang remaja laki-laki (14 tahun) di Bandara Vienna sehari sebelumnya (30 Oktober) yang terduga membawa bom, “membuat kami ketar-ketir”, ujar Hasna.

Hasna menyesalkan kalangan Muslim yang konon ingin ‘memperjuangkan’ Islam, tetapi dengan cara-cara yang justru merusak citra Islam dan kaum Muslimin. “Dengan tindakan seperti itu, mereka bukan menolong Islam dan kaum Muslim, tetapi sebaliknya mencemarkan agama Allah”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s