Suatu Hari di Kampung Tatar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Orang-orang Tatar agaknya merupakan salah satu bangsa yang paling terpencar di muka bumi ini sejak waktu lama. Kini bermukim di berbagai negara, tidak ada angka pasti berapa jumlah mereka, walau berbagai estimasi memperkirakan jumlah mereka sekitar 10 juta jiwa pada 2000.

Suku Tatar belakangan ini menjadi bagian dari berita krisis di Ukraina ketika bagian tenggara negara ini sejak akhir Februari 2014 berusaha melepaskan diri dengan bantuan Rusia. Suku Tatar yang bermukim di Semenanjung Krimea ibarat terjepit di antara dua kekuatan: pemerintah pusat Ukraina di Kiev yang memerangi kaum separatis di Donetsk.

Secara tradisional, mereka menjadi sasaran kecurigaan Moskow. Bahkan, pada 1944 atas perintah Joseph Stalin, secara massal mereka diusir dari Semenanjung Krimea walaupun kemudian mereka direpatriasi.

Berasal dari nenek moyang bangsa Turki, orang-orang Tatar kini paling banyak bisa ditemukan di Republik Tatarstan yang merupakan bagian Federasi Rusia. Pernah berkunjung pada Juni 2009 ke Kazan, ibu kota Republik Tatarstan, penulis Resonansi ini menyaksikan lanskap yang berbeda dengan wilayah Federasi Rusia lain: di mana-mana terlihat banyak masjid dan madrasah, bahkan juga universitas Islam. Warga Tatar adalah kaum Muslim wasathiyyah.

Penulis Resonansi ini juga menemukan kampung Tatar Muslim di Polandia. Bersama delegasi Dialog Antaragama Indonesia-Polandia III awal November 2014, Ahad (2/11), penulis mengunjungi dua masjid Tatar di kawasan Provinsi Bialystok, sebelah timur laut Warsawa, ibu kota Polandia. Komunitas Muslim Tatar ini adalah komunitas Muslim yang sudah berusia panjang —melewati berbagai perang dan pergolakan politik, tapi tetap bertahan. Kini mereka menjadi bagian terbesar dari sekitar 5.000 Muslim Polandia.

Orang-orang Tatar mulai datang dari kawasan Volga dan menetap di wilayah Polandia sejak 1379. Banyak di antara mereka semula adalah prajurit Tatar yang ikut berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald 1410 di Malbork, wilayah utara Polandia sekarang. Perlahan tapi pasti mereka membentuk komunitas distingtif setidaknya di dua desa di Provinsi Podlaskie, sekitar 180 kilometer arah timur laut Warsawa.

Komunitas Muslim Tatar sering berjuang membela Kerajaan Polandia sehingga mereka dianugerahi tanah oleh Raja Polandia untuk membangun desa. Dalam Perang Dunia II banyak warga Tatar Polandia diusir Jerman ke Siberia, seusai perang mereka berimigrasi ke Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.

Secara jumlah, Muslim Tatar Polandia tidak signifikan karena jika bicara tentang ‘agama’ di Polandia, yang dimaksud adalah Katolik yang berjumlah sekitar 90 persen dari 39 juta penduduk. Apalagi Paus Johanes Paul II (1920-2005) berasal dari Polandia. Namun, kaum Muslim Tatar cukup solid. Sejak 1936 mereka mendirikan Persatuan Muslim Polandia.

Salah satu distingsi kaum Muslim Tatar Polandia adalah masjid yang bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat komunitas. Ada tiga masjid Tatar di Polandia: Kruszyniany, Bohoniki, dan Gdansk —yang pernah menjadi pusat organisasi buruh Solidaritas pimpinan Lech Walensa.

Masjid pertama didirikan pada 1768-1795 di Desa Kruszyniany, sekitar 50 kilometer dari Bialystok, ibu kota Provinsi Podlaskie. Berkunjung ke masjid tua ini terlihat masih kokoh. Dapat menampung sekitar 100 jamaah, bagian dalam masjid kecil ini juga memiliki ‘mezanine’ yang biasanya digunakan untuk Muslimah. Masjid yang ini meski memiliki dua menara yang sedikit lebih tinggi, tidak tinggi dari bangunan utama, mirip gereja dan rumah tradisional. Meski kecil, bangunan ini memang betul-betul masjid, lengkap dengan mihrab dan mimbar.

Masjid Tatar kedua terletak di Desa Bohoniki, dekat Kota Sokolta, sebelah timur laut Bialystok. Menurut penuturan komunitas Tatar yang tinggal di sekelilingnya, masjid ini didirikan pada pertengahan akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Masjid Bohoniki yang sedikit lebih kecil daripada Masjid Kruszyniany memiliki kubah mini dan ruangan untuk jamaah laki-laki dan jamaah perempuan di bagian belakang. Masjid ini juga memiliki mimbar dan mihrab kecil sehingga juga digunakan untuk ibadah shalat Jumat.

Lingkungan Tatar di Bohiniki juga dilengkapi makam khusus untuk Muslim yang terletak sekitar 400 meter dari masjid. Makam ini diperkirakan sudah digunakan sejak abad ke-18. Sebagian makam hanya ditandai batu-batu agak besar tanpa nama orang yang dimakamkan di sana. Sedangkan kuburan untuk masa pasca-Perang Dunia II, kelihatan lebih ‘wah’ yang hampir sepenuhnya ditutup dengan batu pualam beserta nisan yang dilengkapi dua kalimah syahadah dan nama almarhum atau almarhumah.

Kompleks pemakaman ini terlihat terawat dan bersih. Cukup banyak di atas kuburan terdapat ikatan bunga yang masih segar. Kelihatannya kaum Muslim Tatar juga baru berziarah ke makam mengikuti tradisi warga Polandia lain yang ziarah ke kuburan dalam rangka merayakan ‘Hari Santo Kudus’ (All Holy Saints Day) yang merupakan hari libur nasional Polandia.

Komunitas Muslim Tatar terlihat merupakan masyarakat paguyuban, di mana satu warga akrab dengan yang lain. Mereka hidup dari pertanian dan peternakan, mulai dari kuda sampai ayam yang terlihat bergerak bebas. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah mereka kian berkurang karena pindah ke perkotaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s