Terisak Mengingat Perjuangan Nabi

Sumber Tulisan : Disini

REPUBLIKA.CO.ID, Nabi Muhammad SAW telah berhasil menyebarkan Islam hingga ke seluruh dunia. Untuk mencapainya, tentu itu tidak mudah. Pengorbanan dan perjuangan tak kenal putus, cobaan silih berganti, hingga akhirnya tertancap dan berkibarlah “bendera” Islam di seluruh belahan dunia.

Demi menegakkan Islam di muka bumi, Nabi SAW harus bersusah payah berperang melawan kaum kafir. Meski hinaan dan ejekan, bahkan siksaan acap kali diterima, hal itu tidak menyurutkan perjuangan Rasulullah untuk menegakkan Islam. Berkat izin Allah, akhirnya Rasulullah berhasil mengibarkan bendera Islam ke seluruh dunia.

“Perjuangan Rasulullah menegakkan Islam itulah yang terbayang ketika saya pergi ke Tanah Suci,” kata cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra.

Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini mengaku, ketika pertama kali pergi ke Tanah Suci tahun 1991 dan saat di Masjidil Haram melihat Ka’bah, yang terbayang di depan matanya adalah perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam.

“Saya seperti melihat sebuah tayangan video, bagaimana Nabi SAW susah payah menyebarkan Islam di negara padang pasir dan bersama para pejuang berhasil menyebarkan Islam ke seluruh dunia,” tuturnya.

Azyumardi menangis ketika melihat Ka’bah. Ia menangis ketika di depan matanya berkelebat bayangan-bayangan perjuangan Nabi SAW. Selain itu, ia juga menangis karena banyaknya monumen historis terkait sejarah Nabi SAW yang hilang.

“Saya menangis tersedu karena melihat bayangan-bayangan itu. Saya juga menangis karena tidak ada lagi monumen peninggalan Nabi SAW yang bisa dipegang. Padahal, kalau ada, saya bisa merasa lebih dekat,” katanya.

Di depan Ka’bah dan di Masjidil Haram, jiwa dan hati Azyumardi seperti teraduk. Ada kekaguman dan keterkesimaan serta juga rasa sedih dan rasa prihatin atas hilangnya banyak bukti sejarah perjuangan Nabi SAW.

Bagi Azyumardi, pergi ke Tanah Suci tidak saja membutuhkan kesanggupan fisik, namun juga mental. “Ketika kita sudah berhaji, terjadi transformasi rohani. Semula hanya mendengarkan cerita-cerita sejarah perjuangan Rasulullah. Ketika di sana, saya merasa hadir bersama Nabi,” katanya.

Tak hanya itu, sepulangnya Azyumardi dari Baitullah, ia merasa ada peningkatan keimanan dan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Lima tahun setelah itu, Allah pun memberikan Azyumardi kenikmatan yang berlipat.

Ia mendapat kesempatan kembali berhaji pada tahun 1996 dalam rangka tugas. Pada 2005, ia melaksanakan ibadah haji untuk ketiga kalinya karena mendapatkan undangan dari Pemerintah Arab Saudi untuk menjadi pembicara tentang pengaruh haji Asia Tenggara.

Menyimak pengalaman dirinya sendiri terkait ibadah haji, ada satu penyesalan yang mendalam. Azyumardi sangat menyesalkan mengapa di zaman modern ini kita yang tinggal menikmati hasil perjuangan Nabi Muhammad tidak sungguh-sungguh menegakkan Islam. “Ada keharuan yang mendalam ketika berada di Tanah Suci,” katanya.

Pria kelahiran Lubuk Alung, Sumatra Barat, 4 Maret 1955, ini mengaku sangat menyayangkan jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW sudah banyak yang hilang.

Masjidil Haram pun sudah mengalami perubahan karena kini sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi. Rumah-rumah lama peninggalan zaman Rasulullah SAW yang asli hilang. “Hanya tersisa Ka”bah,” ujarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s