Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas (2)

Oleh: Azyumardi Azra

Ihwal agama—dalam hal ini Islam—dalam kaitannya dengan modernitas pernah menjadi wacana akademis dan intelektual pada awal 1970-an ketika banyak negara, khususnya di Dunia Muslim—mulai melancarkan pembangunan ekonomi. Tetapi setelah hampir setengah abad sejak masa itu, kebanyakan negara di wilayah Dunia Muslim tetap berada pada pinggiran sejarah dan percaturan dunia. Banyak negara di ranah ini gagal dalam pembangunan dan modernisasi; modernitas tidak dapat berkembang baik guna memajukan kaum Muslim.

Dalam konteks itu orang boleh jadi ingat pada Bernard Lewis dengan karyanya What Went Wrong? The Clash between Islam and Modernity in the Middle East (2003). Menurut Lewis, wilayah Muslim Timur Tengah tidak bisa maju karena adanya benturan di antara Islam dan modernitas. Argumen pokok Lewis, bahwa yang salah dalam benturan itu adalah Islam yang tidak dapat berubah telah ditolak banyak ahli lain dan tidak perlu diulangi di sini.

Meski demikian, ikhwal modernitas dalam kaitan dengan Islam dan masyarakat Muslim kembali menjadi perbincangan para ahli dan akademisi. Pada hari terakhir Konperensi tiga hari (9-11/11/2015) Accademia Ambrosiana, Milan, Italia bertema ‘Tradizione, Memoria e Modernita’ pembahasan secara khusus diabdikan untuk mengkaji Islam dan modernitas.

Menurut Profesor Massimo Campanini, gurubesar Universitas Trento Italia, yang menyatakan tidak setuju dengan pandangan Lewi, kegagalan menjawab modenitas itu lebih terkait dengan sejumlah faktor. Di antaranya adalah friksi dan konflik politik, stagnasi ekonomi, dominasi fiqh terhadap ilmu alam dan filsafat, taklid buta terhadap pemikiran kuno daripada hasil penelitian, dan penolakan atau ketidakmampuan memperbarui sistem kebebasan dan HAM.

Karena itu, menurut Campanini, dengan adanya faktor tadi kegagalan dalam modernitas tidak dapat dikaitkan dengan agama. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan, masa klasik Islam kekuasaan politik Muslim berjaya, ekonomi bertumbuh makmur, ilmu alam dan filsafat mencapai kejayaannya dan masyarakat Muslim sendiri berkembang lebih kompleks dan terdiferensiasi.

Sejak abad pertengahan Dunia Muslim terhinggapi berbagai faktor tidak kondusif yang menghalangi upaya membangkitkan kemajuan masyarakat Muslim. Sementara itu, khususnya sejak abad 17, Eropa mengalami renaisans dan revolusi industri sehingga menjelang pertengahan abad 19 sebagian besar kawasan Dunia Muslim jatuh ke tangan imperialisme dan kolonialisme Eropa.

Dalam pandangan Campanini, berhadapan dengan realitas pahit itu, ada dua macam reaksi kaum intelektual Muslim; pertama, memodernitaskan Islam atau mengislamkan modernitas. Memodernitaskan Islam berarti percaya tradisi Islam tidak lagi mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat moderen. Sedangkan mengislamkan modernitas percaya Islam sepenuhnya moderen dan rasional; karena itu mampu mengarahkan masyarakat atas dasar Alquran dan tradisi.

Menurut Campanini, masing-masing reaksi kalangan intelektual Muslim terhadap modernitas juga mengandung ekses. Ada kalangan pendukung memodernitaskan Islam yang menganggap Islam tidak lagi relevan. Ada pula pendukung pengislaman modernitas yang berusaha melawan sumber modernitas, yaitu Barat, dengan kekerasan dan bahkan terorisme.

Meski demikian, reaksi kedua pihak tersebut mengandung gagasan tentang perlunya kebangkitan (nahdah), pembaruan (tajdid) dan reformasi (islah) dalam menghadapi modernitas. Sedangkan arus utama Muslim menekankan perlunya kaum Muslim dan pemikiran Islam untuk mengkaji modernitas secara mendalam dan mengelaborasinya menjadi ‘modernitas Islam’.

Penulis Resonansi ini dalam kesempatan yang sama (11/11/2015) turut membahas modernitas dan Islam dalam konteks masyarakat demokratis dan kebebasan beragama, khususnya di Indonesia. Sebelumnya, penulis (10/11/2015 juga membahas subyek ‘Tradisi dan Modernitas di Dunia Muslim’ di Universita Cattolica, Milan.

Menurut penulis, modernitas harus dilihat dalam dua perspektif; modernitas sebagai nilai dan modernitas sebagai tahapan sejarah. Dalam hal modernitas sebagai nilai, Islam mengandung banyak komonalitas dengan nilai-nilai modernitas termasuk orientasi ke masa depan (progressive) daripada ke masa silam; etos kerja yang tinggi; penggunaan akal pikiran;dan inovasi pengetahuan sains dan teknologi.

Tetapi modernitas sebagai tahapan sejarah terkait dengan Eropa dimulai dengan percerahan (aufklaruung), renaisans, reformasi gereja, dan revolusi industri. Dalam konteks Eropa, modernitas mengandung karakter pertumbuhan toleransi sebagai prinsip politik dan sosial; penggunaan akal dengan orientasi anthroposentrik; peningkatan sains dan teknologi, industrialisasi dan mekanisasi; kebangkitan merkantilisme dan kapitalisme; dan ‘penemuan’ dan kolonisasi dunia non-Eropa.

Kaum Muslim Indonesia menerima modernitas secara diam. Nilai dan proses modernitas berjalan tanpa perdebatan substantif. Hasilnya, Indonesia dapat melangkah lebih mulus dalam proses adopsi modernitas untuk kemajuan.

Tetapi banyak Muslim di Timur Tengah, melihat modernitas tak lebih dari Eropanisasi atau Westernisasi, liberalisasi dan sekularisasi. Karena itu, mereka berusaha melawan modernitas dengan cara apapun, termasuk dengan kekerasan dan terorisme. []

REPUBLIKA, 19 November 2015
Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Penerima MIPI Award 2014 dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s