Menjaga Indonesia (2)

Oleh Azyumardi Azra

Melihat masih banyaknya kelompok dan sel teroris gentayangan di bawah tanah di Indonesia, agaknya teror yang terakhir terjadi (14/1) di sekitar kawasan Sarinah-Menara Cakrawala, Jalan Thamrin, Jakarta, belum tentu merupakan aksi final. Boleh jadi, kesigapan aparat Polri menumpas para pelaku aksi teror justru mendorong kelompok dan sel mereka melakukan aksi pembalasan dalam skala yang bisa jadi tak terbayangkan. Na’udzu billah min dzalik.

Lagi pula, selama sumber masalah–kekacauan di dunia Arab–masih berlanjut, selama itu pula ada warga Indonesia yang tidak menggunakan nalar dan nurani mengimpor kekacauan dan teror dari Timur Tengah ke Tanah Air. Dalam perspektif mereka, meski Timur Tengah penuh kekacauan, kekerasan, dan teror, Islam kawasan ini mereka anggap sebagai wilayah ‘Islam paling sempurna’. Hal terakhir ini menjadi alasan pokok (raison d’etre) untuk menyebar teror di berbagai tempat lain, termasuk di Indonesia.

Karena itu, menjadi sangat mendesak bagi negara-negara Arab untuk lebih serius menyelesaikan masalah dalam negeri masing-masing. Selama sektarianisme politik, agama, dan kabilah tetap berlangsung dalam skala tinggi, bisa dipastikan konflik dan kekerasan terus berlanjut yang menyebar ke wilayah dunia lain.

Tak kurang pentingnya adalah menyelesaikan konflik dan pertikaian antara satu negara dan negara lain, misalnya, antara Arab Saudi, sekutu, dan sekaligus proxy (agen atau kelompok afiliasi dekat) di dunia Arab pada satu pihak dengan Iran beserta sekutu dan proxy-nya pula. Jika tidak, boleh jadi perang terbuka langsung di antara kedua negara bermusuhan ini tidak pecah, tetapi proxy wars di antara agen dan kelompok dekat masing-masing bisa terus berlanjut di berbagai tempat dunia Muslim–boleh jadi dalam skala lebih intens.

Karena itu, selama masing-masing pihak memainkan zero sum game, saling bunuh, selama itu pula wilayah ini tak pernah berhenti bergejolak. Selama pihak-pihak bertikai bersikukuh dengan sektarinianisme politik, kabilah, agama, dan budaya masing-masing, selama itu pula perdamaian tak bakal tercipta.

Selanjutnya, kekuatan internasional yang peduli mesti memainkan peran mediasi. Untuk dapat memainkan peran mediasi, sebuah kekuatan dunia mesti dapat dipercaya pihak-pihak bertikai. Selain itu, ia mesti memiliki bobot atau daya tekan dan pengaruh (leverage) yang bisa memengaruhi sikap para pihak bertikai.

Indonesia–sekali lagi, sebagai negara Muslim terbesar–lebih dihormati dan lebih bisa diterima pihak-pihak bertikai di Timur Tengah. Indonesia tidak memiliki ambisi geopolitik strategis di Timur Tengah dan karena itu lebih terpecaya dibanding Amerika Serikat atau negara Eropa yang mempunyai kepentingan geopolitik strategis dan ekonomi.

Selain itu, Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk penganut Islam wasathiyyah, Islam jalan tengah, yang menekankan pemahaman inklusif, akomodatif, dan toleran. Sektarianisme juga ada di antara sesama Muslim Indonesia—misalnya, tercermin dalam pandangan dunia dan furu’iyah yang kemudian mengejawantah dalam berbagai ormas Islam. Tetapi, jelas sektarianisme antarmazhab dan aliran kaum Muslim Indonesia tidak bernyala-nyala seperti ada di wilayah dunia Muslim lain.

Sebaliknya, dalam tiga dasawarsa terakhir, gejala yang cukup bisa diamati adalah kian meningkatnya konvergensi aliran dan mazhab lewat pertukaran pemahaman dan praksis Islam yang tadinya berbeda. Hasilnya, soal furu’iyah tidak lagi menjadi pertikaian yang dapat meningkatkan sektarianisme mazhab dan aliran.

Dilihat dari perkembangan ini, aksi terorisme segelintir warga Muslim Indonesia tidak dapat dan bakal pernah mampu mengubah karakter dan distingsi Islam Indonesia wasathiyyah. Seperti sering penulis “Resonansi” ini kemukakan, “Indonesian wasathiyyah Islam is too big to fail.”

Meski demikian, Islam Indonesia wasathiyyah tidak bisa dianggap telah selesai (taken for granted). Ancaman terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena itu, segenap umat Islam Indonesia wasathiyyah tetap perlu memperkuat dan memberdayakan pemahaman dan praksis Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dengan penguatan dan perberdayaan Islam wasathiyyah, Muslim negeri ini dapat memelihara dan menjaga Indonesia. Sebagai bagian terbesar warga negeri ini, kaum Muslimin memiliki tanggung jawab khusus menjaga Indonesia tetap bersatu, aman, damai, bertumbuh maju menuju kemakmuran dan keadilan. Indonesia demikian, kian memungkinkan bagi kaum Muslim dan umat beragama lain beribadah agama dan sosial secara lebih baik pula. Dengan begitu, Islam Indonesia menjadi rujukan bagi kaum Muslimin lain di mancanegara.

Sebaliknya, Indonesia yang tidak terpelihara bakal membawa negeri ini ke dalam kekacauan dan instabilitas politik yang dapat mengoyak keutuhan negara-bangsa. Karenanya, pemerintah, pemimpin lembaga publik, pemimpin umat dan warga mesti melakukan segenap upaya untuk terus menjaga Indonesia.

Republika, Kamis, 28 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s